NPM :
24217894
KELAS :
2EB04
MATA KULIAH :
EKONOMI KOPERASI (SOFTSKILL)
DOSEN :
SULASTRI
MAKALAH
EKONOMI
KOPERASI
KEKUATAN, KELEMAHAN, PELUANG, ANCAMAN DAN STRATEGI KOPERASI DI ERA MILENIUM
Makalah ini
Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah Ekonomi Koperasi
(Softskill)
Dosen Pengampu : Sulastri
KELAS 2EB04
Disusun Oleh:
RAHMAT JATNIKA (24217894)
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
PTA 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke
hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan
makalah saya dengan baik. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu
Sulastri, selaku dosen mata kuliah Ekonomi Koperasi, yang telah memberikan
kesempatan kepada saya untuk dapat menulis serta menyelesaikan makalah ini. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata
kuliah Softskill “Ekonomi Koperasi”. Tak ada gading yang tak retak, demikian
juga saya dalam menulis makalah ini memiliki beberapa kelemahan dan melakukan
kesalahan, sehingga makalah yang saya tulis ini masih jauh dari sempurna dan
tak luput dari kecacatan. Oleh karena itu, saya meminta maaf atas kesalahan
yang ada dan mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi para
pembaca dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Rahmat Jatnika
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Manfaat Penulisan
BAB
II PEMBAHASAN
2.2 Kekuatan (Strength) Koperasi di Era
Milenium
2.3 Kelemahan (Weakness) Koperasi di
Era Milenium
2.4 Peluang (Opportunity) Koperasi
di Era Milenium
2.6 Strategi yang Harus Dilakukan
Agar Koperasi Masih Tetap Eksisi dan Bisa Bertahan di Era Milenium
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dunia berada pada proses evolusi yang spektakuler cepat. Teknologi informasi menjadi motor penggerak perubahan. Percepatan perubahan dirasakan oleh seluruh sektor kehidupan. Pola, model dan strategi menjalankan organisasi dan bisnis berubah. Ilmu manajemen telah menjangkau tahap ke sembilan dg manajemen otak, yang mencerminkan interkoneksitas sekian banyak faktor yang tidak dapat dinafikan. Strategi bisnis diprovokasi oleh hal internal dan eksternal perusahaan diperbanyak dengan hal non ekonomis. Perubahan sosial kebiasaan di masyarakat paling cepat. Struktur sosial baru dalam masyarakat berubah seiring dengan teori keperluan manusia.
Pakar
teknologi informasi menyebut ketika ini zaman milenial yang ditandai
kebangkitan baru kumpulan pemuda terpelajar perkotaan yang memiliki
kecenderungan pemenuhan keperluan serba cepat, mudah, murah dan nyaman. Sistem
pemenuhan keperluan barang, jasa dan informasi kaum milenial berbasis pada
cengkeraman android ditangannya. Informasi dan data menjadi barang mahal yang
dikejar oleh seluruh orang. Kecenderungan dan motif setiap insan dapat
disaksikan di media sosial. Pergeseran media sosial sebagai perangkat
silaturahmi menjadi media iklan yang efektif untuk menyusun opini dan trend
setter suatu produk atau isu. Bahkan media sosial menjadi perangkat pergerakan
vertikal seseorang dari tiada siapa- siapa menjadi siapa yang viral yang
mendatangkan kemudahan materi yang kadang tidak sedikit.
Melihat gejala diatas, manusia koperasi mesti segera berubah mengatur organisasi dan strategi bisnisnya. Strategi evolusi organisasi dilakuka melewati a) modernisasi organisasi dan manajemen dengan mengerjakan organizational reenginering yang berbasis pada sistem operasi yang cepat, mudah, transparan dan memiliki akuntabilitas tinggi sampai-sampai membangun keyakinan anggota, b) pemanfaatan teknologi informasi dalam pengelolaan bisnis berbasis pada sistem software yang mempermudah anggota menemukan pelayanan usaha koperasi, c) konsentrasi mengembangkan bisnis didasarkan pada skala dan kelayakan ekonomi dan menciduk setiap kesempatan bisnis yang ada, d) membina close look economy dalam koperasi yang captive market sehingha koperasi memiliki bargaining position yang kuat sebab kesatuan ekonominya serta e) secara konsisten dan betul-betul koperasi mesti menjalankan prinsip-prinsip serta nilai koperasi dalam tata kelola orgnisasi dan bisnisnya.
Dengan
adanya otonomi daerah, mengakibatkan terputus hubungan struktural antara
pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Hal itu menimbulkankendala dalam
mengawasi perkembangan koperasi Indonesia. Data pertumbuhan koperasi yang bisa
dilaporkan ialah data tahun 2000 dan data yang sangat mutakhir ialah data 2006
yang adalah hasil kajian pengumpulan koperasi yang responsif gender Indonesia
oleh Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK. Dari data tersebut, data
diajukan bahwa secara kuantitatif pertumbuhan koperasi menunjukan penambahan yang
signifikan, seperti penambahan jumlah koperasi aktif, jumlah karyawan dan
manager, permodalan dan volume usahanya.
Sementara bila disaksikan dari kualitas, koperasi ingin
lebih konsisten dan memberikan akibat positif yanglebih luas yakni penigkatan
kesejahteraan keluarga.
Sesuai
RPJM 2005 dimana ditargetkan perwujudan 70000 unit koperasi berartiterdapat
tantangan untuk pemerintah guna menumbuhkan dan memantapkan koperasi. Prioritas
pada pemberdayaan koperasi juga dapat dilihat dari fakta bahwa koperasi ingin
lebih konsisten dibanding jenis lainnya. Dan koperasi bisa menumbuhkan antara
lain kumpulan usaha masyarakat yang produktif dan potensial, sebab keberadaan
kumpulan tersebut lumayan banyak.
Kementerian Negara Koperasi dan UKM dari tahun 2004-2006 ialah sebanyak 184 kumpulan 32 propinsi yang mendapatkan pertolongan perkuatan modal usaha berbentuk dana bergulir melewati koperasi (KSP/USP) dengan pola tanggung renteng. Pada tahun 2007 Kementerian Negara Koperasi dan UKM bakal memberikan pertolongan perkuatan modal usaha untuk satu kumpulan tanggung renteng melewati satu KSP/USP per propinsi sebesar Rp.22.500.000,-. Kelompok tanggung renteng dimaksud merupakan kumpulan usaha produktif yang utamanya terdiri dari 1kelompok 15 orang.
Awalnya keberadaan koperasi itu hanya untuk memenuhi
kebutuhan pokok para anggotanya, sehingga hanya ada koperasi konsumsi atau
single purpose. Namun dalam perkembangannya fungsi koperasi menjadi
bermacam-macam antara lain sebagai tolak ukur kegiatan usaha, sebagai bentuk usaha
baru, dan sebagai alternatif kegiatan usaha.
1.2
Perumusan Masalah
2.1 Penjelasan Koperasi di Era
Milenium
2.2 Kekuatan (Strength) Koperasi di Era Milenium
2.3 Kelemahan (Weakness) Koperasi di Era Milenium
2.4 Peluang (Opportunity) Koperasi di Era
Milenium
2.5 Ancaman (Threats) Koperasi di Era
Milenium
2.6 Strategi yang Harus Dilakukan Agar Koperasi Masih Tetap
Eksisi dan Bisa Bertahan di Era
Milenium
1.3 Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan dari penyusunan
makalah ini :
1. Untuk mengetahui dan memahami
mengenai eksistensi koperasi di era milenium melalui analisis SWOT
2. Untuk mengetahui strategi
yang harus dilakukan agar koperasi masih tetap eksis dan bisa bertahan di era
milenium.
Adapun manfaat penulisan ini, yaitu
:
1. Sebagai masukan saya sendiri
untuk menambah wawasan mengenai koperasi di era milenium melalui analisis SWOT
san startegi apa saja yang harus dilakukan agar koperasi masih tetap eksis dan
bisa bertahan di era milenium.
2. Menambah informasi dan
pengetahuan bagi para mahasiswa dan para pembaca umum.
BAB II
2.1 Penjelasan Koperasi di Era Milenium
Perkembangan koperasi di
Indonesia semakin lama semakin
mengindikasikan perkembangan menggembirakan. Sebagai di antara pilar penopang perekonomian
Indonesia, eksistensi koperasi paling kuat dan mendapat lokasi tersendiri di kalangan pemakai jasanya. Koperasi telah memperlihatkan bahwa dirinya dapat bertahan di tengah gempuran
badai krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia. Keberadaan koperasi semakin
diperkuat pula dengan dibentuknya Kementerian Negara Koperasi dan UKM yang di antara tugasnya ialah mengembangkan koperasi menjadi
lebih berdaya guna. Koperasi sangat
diinginkan menjadi soko guru perekonomian yang sejajar dengan
perusahaan-perusahaan dalam mengembangkan perekonomian rakyat selain tersebut koperasi juga diinginkan mampu berlomba di pasar global.
Koperasi
dengan kompetisi usahanya yang
sehat adalah strategi yang
efektif guna memenangkan kompetisi di era pasar bebas.
Persaingan usaha yang sehat itulah yang
disebut ekonomi kekeluargaan
laksana yang tertera dalam
konstitusi yakni menurut pasal
33 UUD 1945, ayat 1 yang mempercayakan “Perekonomian dibentuk sebagai usaha bareng berdasar atas azas
kekeluargaan”.
Di
era kompetisi usaha yang semakin tersingkap dan bebas, struktur
ekonomi nasional dituntut semakin kokoh
melewati peningkatan efisiensi, produktivitas dan daya saing. Oleh sebab itu, sebagai strategi yang baik
di era kompetisi global,
Koperasi dan UKM mesti lebih
berdaya saing. Tegaknya iklim kompetisi
usaha yang sehat menjadi sangat
urgen untuk mengantisipasi ancaman praktik kompetisi usaha tidak sehat yang kian meningkat di era pasar bebas, laksana kartel, merger, akuisisi, dan penyalahgunaan posisi
dominan. Melalui kompetisi usaha yang sehat selain menambah efisiensi, produktivitas, dan daya saing ekonomi
nasional pun berpotensi
menumbuhkembangkan situasi sinergis
antar-pelaku usaha. Di era pasar bebas, koperasi dan UKM mesti dijadikan tulang punggung perekonomian nasional sebab eksistensinya yang mencapai sampai pelosok negeri.
Kekuatan (strength) yakni kekuatan apa saja yang dipunyai koperasi. Dengan memahami kekuatan, koperasi bisa dikembangkan menjadi lebih
tangguh sampai mampu bertahan
dalam perekonomian di Indonesia dan mampu berlomba untuk pengembangan selanjutnya. Peterson (2005), menuliskan bahwa koperasi mesti mempunyai keunggulan-keunggulan kompetitif dikomparasikan organisasi-organisasi bisnis lainnya untuk dapat menang dalam kompetisi di dalam era globalisasi
dan perniagaan bebas ketika ini. Keunggulan kompetitif disini didefinisikan
sebagai sebuah kekuatan
organisasional yang secara jelas
menanam suatu perusahaan di posisi terdepan dikomparasikan pesaing-pesaingnya.
Faktor-faktor kelebihan kompetitif dari koperasi mesti datang dari:
1.Sumber-sumber tangible laksana kualitas atau
keanehan dari produk yang dijual
(misalnya koperasi susu, koperasi
mesti menyimak kualitas susu yang dihasilkan) dan kekuatan modal.
2.Sumber-sumber bukan tangible laksana brand name, reputasi, dan
pola manajemen yang diterapkan.
3.Kapabilitas atau
kompetensi-kompetensi inti yakni
keterampilan yang perumahan untuk mengerjakan suatu rangkaian kegiatan tertentu atau
kegiatan-kegiatan kompetitif.
Kelemahan (Weakness) yakni segala hal yang tidak menguntungkan atau merugikan untuk koperasi. Menurutnya, di antara yang mesti dilaksanakan koperasi untuk dapat memang dalam persaingan ialah menciptakan efisiensi biaya. Tetapi ini juga dapat ditiru / dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan beda (non-koperasi). Jadi, ini bukan suatu kelebihan kompetitif yang
sebetulnya dari koperasi. Menurutnya satu-satunya kelebihan* kompetitif
sebetulnya dari koperasi ialah hubungannya
dengan anggota.
Misalnya,di
koperasi buatan komoditas-komoditas
pertanian, lewat anggotanya koperasi tersebut dapat melacak bahan baku yang lebih murah, sementara perusahaan non-koperasi mesti menerbitkan uang untuk menggali bahan baku murah.
2.4 PELUANG
(OPPORTUNITY) KOPERASI DI ERA MILENIUM
Peluang (Opportunities) yakni semua peluang yang terdapat sebagai kepandaian pemerintah, ketentuan yang berlaku atau situasi perekonomian nasional atau
global yang dirasakan memberi
peluang untuk koperasi guna tumbuh dan berkembang di masa
yang bakal datang. Loyd (2001)
menegaskan bahwa koperasi-koperasi perlu
mengetahui apa yang dapat membuat
mereka menjadi unggul di pasar yang
merasakan perubahan yang semakin cepat dampak banyak hal multi
termasuk peradaban teknologi,
peningkatan penghasilan masyarakat
yang menciptakan perubahan
selera pembeli, penemuan-penemuan material baru yang dapat menghasilkan output lebih murah, ringan, baik kualitasnya,
tahan lama, dan kian banyaknya
pesaing-pesaing baru dalam skala yang lebih besar dalam menghadapi
perubahan-perubahan itu faktor-faktor
kunci yang menilai keberhasilan
koperasi merupakan:
1.Posisi pasar yang powerful (antara beda dengan mengeksploitasikan
kesempatan-kesempatan vertikal dan mendorong integrasi konsumen).
2.Pengetahuan yang unik tentang produk atau proses produksi.
3.Sangat mengetahui rantai buatan dari
produk bersangkutan.
4.Menerapkan sebuah strategi yang berkilauan yang dapat merespons secara tepat dan
cepat setiap evolusi pasar.
5.Terlibat aktif dalam
produk-produk yang memiliki tren-tren
yang bertambah atau
prospek-prospek masa mendatang yang
bagus (jadi mengembangkan peluang yang paling tepat).
2.
5 ANCAMAN (THREATS) KOPERASI DI ERA MILENIUM
Ancaman (Threats) yakni hal-hal yang dapat menyebabkan kerugian untuk kopersi laksana Peraturan Pemerintah yang tidak memberikan fasilitas berusaha, rusaknya
lingkungan, bertambahnya pelacuran atau gejolak
sosial sebagai dampak mahalnya
dan kompetisi tour operator
asing yang lebih professional, yakni dengan menyaksikan kekuatan (Strengths), kekurangan (Weakness), peluang (Opportunities) dan ancaman
(Threats) koperasi di Indonesia.
Sedangkan
faktor-faktor eksternal terutama ialah intervensi
pemerintah yang terlampau besar
yang tidak jarang didorong oleh
donor, kendala lingkungan-lingkungan
ekonomi dan politik, dan harapan-harapan yang tidak realistic dari peran dari
koperasi. Berdasarkan keterangan dari mereka,
problem yang sangat signifikan ialah cara bagaimana koperasi tersebut dipromosikan oleh
pemerintah. Promosi yang sifatnya dari atas ke bawah telah merintangi anggota guna aktif berpartisipasi dalam
pembangunan koperasi. Bentuk-bentuk organisasi dan kegiatan-kegiatan yang mesti dilakukan ditata oleh pihak luar.
Jadi
koperasi sudah gagal guna berkembang menjadi unit-unit
yang berdikari dan sepenuhnya menurut anggota. Masih dalam kaitan
ini, Linstad (1990) menuliskan bahwa
di tidak sedikit negara
berkembang tidak jarang kali
pemerintah menyaksikan dan memakai koperasi sebagai sebuah alat guna menjalankan agenda-agenda pembangunannya sendiri.
Koperasi sering diinginkan bahkan di paksa bermanfaat sebagai kesejahteraan
sosial dan sekaligus sebagai organisasi ekonomi, yang dengan sendirinya memberi
beban paling berat untuk struktur manajemen koperasi
yang pada lazimnya lemah.
Berdasarkan keterangan dari Braverman, dkk. (1991), tidak banyak sekali perhatian diserahkan kepada kondisi-kondisi
ekonomi dimana koperasi-koperasi
diinginkan melakukan sekian
banyak aktivitas. Promosi koperasi
yang tidak diskriminatif, yaitu tanpa
memberi perhatian pada hal-hal laksana dinamik-dinamik
internal, insentif, struktur kontrol, dan edukasi dari anggota,
tidak jarang kali telah
menciptakan koperasi-koperasi menjadi organisasi-organisasi birokrasi yang paling tergantung pada sokongan pemerintah dan politik. Oleh sebab itu, Gentil (1990) menegaskan
bahwa supaya koperasi maju maka
hubungan antara pemerintah dan koperasi yang didefinisikan ulang.
Setelah memahami hal-hal diatas, saya dapat meneliti bahwa koperasi belum siap
dengan adanya globalisasi. Karena
ketika ini situasi dari
koperasi tersebut sendiri sedang
tidak baik, bahkan dapat disebutkan kondisi
koperasi buruk. Penyebabnya pengelolaan yang tidak cukup profesional, kurangnya penataan manajemen, pengurus tidak sedikit yang korup, pengelola koperasi pun belum ada keterampilan untuk benar – benar mengelola dengan baik, produk
yang didapatkan juga belum
mencukupi. Sebenarnya Indonesia dapat menjadi
Negara maju, dengan kekayaan alam yang di miliki oleh Indonesia, andai dikelola dan dikembangkan
dengan baik, tentu Indonesia dapat menjadi negara maju. Tetapi, sebab pengolahannya tidak cukup dan masyarakatnya belum dapat memanfaatkan hasil bumi
Indonesia maka Indonesia belum dapat dikatakan
sebagai Negara maju.
Seandainya
globalisasi benar-benar terwujud cocok dengan
sekenario terjadinya pasar bebas dan
kompetisi bebas, maka bukan berarti tamatlah riwayat koperasi. Peluang
koperasi guna tetap berperan
dalam percaturan perekonomian nasional dan internasional tersingkap lebar asalkan koperasi dapat membenahi diri menjadi di
antara pelaku ekonomi (badan usaha) yang kompetitif dikomparasikan pelaku ekonomi
lainnya. Tantangan guna pengembangan masa mendatang memang relatif berat,
karena bila tidak dilaksanakan pemberdayaan dalam
koperasi bisa tergusur dalam
percaturan kompetisi yang kian intens dan mengglobal. Kalau anda lihat ciri-ciri globalisasi
dimana pergerakkan barang, modal dan
duit demikian bebas dan perlakuan terhadap pelaku ekonomi sendiri dan
asing(luar negeri)sama, maka tidak ada
dalil lagi untuk suatu
Negara guna menidurkan semua pelaku ekonomi (termasuk
koperasi) yang tidak tepat guna dan
kompetitif.
2.6
STRATEGI YANG HARUS DILAKUKAN AGAR KOPERASI MASIH TETAP EKSIS DAN BISA BERTAHAN
DI ERA MILENIUM
Dalam rangka berlomba di dalam pasar global
Koperasi mesti memiliki keawetan Internal berupa sumber daya insan (SDM) yang tangguh dan kompeten guna memanfaatkan kesempatan yang tercipta melewati pasar bebas ASEAN-Cina
(ACFTA). Beberapa kesempatan yang terbuat dari
ACFTA ialah kawasan dengan 1,7
miliar konsumen, produk dalam negeri bruto
(PDB) negara anggota yang menjangkau 2
triilun dolar AS, dan total perniagaan tahunan
yang menjangkau 1,23 triliun
dolar AS. Peluang beda yang
tidak kalah pentingnya ialah tujuh
ribu kelompok komoditas bebas
bea yang dapat mengurangi ongkos operasional. Hal ini mesti dimanfaatkan oleh koperasi
secara maksimal agar koperasi bisa memenangkan kompetisi dipasar global. Berikut ini akibat positif andai Koperasi bisa memenangkan
pasar global diantaranya:
§Produksi
global dapat dinaikkan Pandangan
ini cocok dengan teori
‘Keuntungan Komparatif’ dari David Ricardo. Melalui spesialisasi dan perniagaan faktor-faktor buatan dunia dapat dipakai dengan lebih efesien, output
dunia meningkat dan masyarakat
akan mendapat keuntungan dari spesialisasi dan perniagaan dalam format pendapatan yang meningkat,
yang selanjutnya dapat menambah pembelanjaan
dan tabungan.
§Meningkatkan
kemakmuran masyarakat dalam sebuah negara
Perdagangan yang lebih bebas memungkinkan masyarakat dari sekian banyak negara mengimpor lebih tidak sedikit barang dari luar
negeri. Hal ini mengakibatkan* konsumen memiliki pilihan barang yang lebih
banyak. Di samping itu, konsumen pun dapat merasakan barang yang lebih baik dengan harga yang lebih rendah.
• Meluaskan pasar guna produk domestik Perdagangan luar negeri yang
lebih bebas memungkinkan masing-masing negara mendapat pasar yang jauh lebih luas
dari pasar dalam negeri.
§Dapat mendapat lebih tidak sedikit modal dan teknologi yang lebih baik Modal dapat didapatkan dari investasi asing dan khususnya dinikmati oleh
negara-negara berkembang sebab masalah kelemahan modal dan tenaga berpengalaman serta tenaga terdidik
yang kawakan kebanyakan dihadapi
oleh negara-negara berkembang.
§Menyediakan
dana ekstra untuk pembangunan
ekonomi Pembangunan sektor industri dan
sekian banyak sektor lainnya tidak hanya dikembangkan oleh
perusahaan asing, namun terutamanya melewati investasi yang dilaksanakan oleh perusahaan swasta
domestik. Perusahaan dalam negeri ini
seringkali membutuhkan modal
dari bank atau pasar saham. dana dari luar negeri khususnya dari negara-negara maju yang menginjak pasar duit dan
pasar modal di domestik dapat menolong menyediakan modal yang diperlukan tersebut.
Untuk
itu, supaya koperasi dapat menembus pasar global, koperasi mesti membenahkan diri dalam urusan intern dan ekstern lingkungan
koperasi, antara beda masalah
keanggotaan. Banyak anggota koperasi yang tidak cukup berperan aktif dalam pengembangan koperasi. Hal ini
terjadi sebab kurangnya
pengetahuan mengenai koperasi.
Sehingga diharuskan pada masing-masing anggota koperasi melimpahkan segala yang dapat dilakukan untuk peradaban koperasi. Selanjutnya
pembenahan masalah manajerial dan operasional koperasi yang sekitar ini masih menggunakan teknik – teknik tradisional mesti
diganti dengan teknik modern sampai-sampai tidak kalah dengan
badan usaha negara lain. Di samping itu, meningkatkan modal guna koperasi sehingga dapat menghasilkan barang dan jasa
dalam jumlah tidak sedikit dengan
disertai kualitas yang baik. Dengan
teknik peminjaman dana dari bank
domestik atau lembaga finansial lain
yang dapat membantu koperasi
dalam peningkatan modal. Serta
uang tabungan wajib dan tabungan sukarela yang biasa dikoleksi setiap anggota koperasi
tetap dilakukan. Semakin tidak sedikit anggota
koperasi maka semakin tidak sedikit pula
modal yang akan diperoleh koperasi guna operasionalnya. Tingkat daya
saing juga dominan untuk
koperasi supaya tetap hidup di
pasar global. Pasar yang mencangkup dunia internasional pun harus dengan kualitas internasional walaupun dengan produksi nasional. Koperasi mesti dapat menghasilkan barang dan
jasa dengan inovasi terbaru
masing-masing* waktunya. Sehingga konsumen merasa puas dengan produk
yang didapatkan koperasi.
Ketua
Dekranasda Kota Bogor Hj. Fauziah Diani Budiarto dalam sambutannya saat membuka sosialisasi pengembangan
teknologi inovasi untuk pengembangan
usaha eksklusif kerajinan yang terdapat di Kota Bogor di Ruang Rapat
III Balaikota Bogor Kamis (14/2) mengatakan, persaingan tersebut hanya dapat diatasi
oleh semua pelaku usaha dengan
meningkatkan keterampilan diri guna dapat menciduk setiap
kesempatan pasar yang ada. Dengan
keterampilan menangkap setiap
kesempatan pasar tersebut, maka
diinginkan setiap pelaku usaha
bakal tetap eksis dalam menjalankan usahanya, ungkapnya. Oleh sebab itu, Fauziah mengingatkan, yang paling penting diacuhkan oleh
masing-masing Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) dan pengrajin ialah berusaha senantiasa kreatif dan
rajin serta mengerjakan inovasif.
Disamping tersebut KUKM dan semua pengrajin di Kota Bogor mesti dapat memanfaatkan segala
potensi yang relatif besar dan potensi
tersebut antara lain, dapat
disaksikan dari jumlah pelaku usaha yang sangat tidak sedikit dan dapat menunjang pekerjaan kepariwisataan dan
berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja di Kota Bogor Bogor.
Terlebih
lagi jumlah KUKM dan pengrajin di Kota Bogor menujukan kecendrungan yang terus bertambah hal itu, terliaht timbulnya pelaku-pelaku usaha yang
baru dibidang perniagaan dan
industri kecil dan pada ketika yang
sama sejumlah produk KUKM dan
pengrajin Kota Bogor pun telah
menjadi produk unggulan dan khas Kota Bogor.
Produk-produk itu antara lain, yakni boneka batik, gong, kramik, kerajinan daur ulang kerajinan kayu, bordil sepatu dan sandal, tas serta sekian banyak makanan dan jajanan khas Kota Bogor. Namun, diakuinya, bahwa pertumbuhan yang baik ini ternyata masih dibuntuti dengan sejumlah kendala dilapangan dalam mengembangkan KUKM dan pengrajin di Kota Bogor. Kendala-kendala tersebut antara lain, berhubungan Sumber Daya Manusia (SDM), pemasaran, pemodalan, pengusaan teknologi, keterbatasan bahan baku dan lain-lain. Menghadapi sekian banyak kendala itu, kata Fauziah Dekranasda Kota Bogor sebagai lembaga dan wadah pembinaan KUKM dan pengrajin paling berkempetingan sekali untuk menolong pengembangan usaha KUKM dan pengrajin. Sosialisasi pengembangan teknologi inovasi ini, dibuntuti oleh semua pengrajin maupun Usaha Kecil Menengah (UKM) se-Kota Bogor yang diadakan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Kota Bogor dengan Dekranasda dan Bagian Perekonomian Kota Bogor, serta Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Jakarta. (www.kamparkab.co.id)
Bagaimana cara supaya koperasi bisa maju dan berkembang di negara
berkembang?
Adalah praktik-praktik operasional yang tidak tepat guna dan pun berisi kekurangan dalam kinerjanya perlu dirapikan secara cepat. Dengan adanya kekuasaan pengurusan yang berlebihan dan tidak cocok dengan aspeknya perlu diberi batas dengan teknik peraturan-peraturan yang memblokir celah pembiasan koperasi
Adalah
Kementerian Koperasi dan UKM butuh menyiapkan suatu blue print pengelolaan koperasi
secara efektif. Blue print koperasi ini nantinya dapat diharapkan bakal menjadi petunjuk untuk semua koperasi di Indonesia dalam menjalankan pekerjaan operasinya secara
profesional, efektif dan efisien.
Adalah
Koperasi butuh mencontoh
implementasi good corporate governance(GCG) yang sudah diterapkan pada perusahaan-perusahaan yang berbadan hukum
perseroan. Implementasi GCG dalam
sejumlah hal bisa diimplementasikan
pada koperasi. Bagi itu,
regulator, dalam urusan ini
Kementerian Koperasi dan UKM perlu
mengenalkan secara maksimal
sebuah konsep good cooperative governance (disingkat pun dengan GCG) atau tatakelola
koperasi yang baik supaya koperasi bisa menjadi lebih maju dalam
bidangnya. Perkembangan koperasi di Indonesia semakin lama semakin mengindikasikan perkembangan
menggembirakan. Sebagai di antara pilar
penopang perekonomian Indonesia,
eksistensi koperasi paling kuat
dan mendapat lokasi tersendiri
di kalangan pemakai jasanya.
Adalah Tidak melulu orang yang sebatas mau menjadi anggota tetapi orang-orang yang memiliki keterampilan dalam pengelolaan dan pengembangan koperasi. Contohnya dengan menggali pemimpin yang bisa memimpin dengan baik, lantas pengelolaan dipegang oleh orang yang berkompeten dalam bidangnya masing-masing. Serta perlu diciptakan pelatihan untuk pengurus koperasi yang belum berpengalaman.
Adalah
Untuk menambah daya jual
koperasi, yang bakal saya
lakukan ialah membuat koperasi
lebih bagus lagi. Membuat koperasi
supaya terlihat unik supaya
masyarakat tertarik ntuk melakukan
pembelian di koperasi barangkali
dengan teknik mengecat
dinding koperasi dengan warna-warna yang indah, meluangkan AC, ruangan
teratur dengan apik dan meluangkan pelayanan yang baik sampai-sampai masyarakat puas.
koperasi pun membutuhkan sarana
promosi guna mengekspose pekerjaan usahanya supaya dapat diketahui oleh
masyarakat umum laksana badan
usaha lainnya salah satu metodenya dengan
menyebarkan brosur dan menciptakan spanduk supaya masyarakat mengetahuinya.
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Koperasi ialah jenis badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan
hukum. Keanggotaan kopersi terdiri dari perorangan, yakni orang yang secara sukarela menjadi anggota koperasi. Badan
hukum koperasi, yaitu sebuah koperasi
yang menjadi anggota koperasi yang mempunyai
lingkup lebih luas.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi koperasi ialah banyak partai politik yang memanfaatkan koperasi guna meluaskan pengaruhnya. Dan pun karena hambatan-hambatan yang dirasakan Indonesia di antaranya
kesadaran masyarakat terhadap koperasi yang masih paling rendah.
Koperasi bisa dianalisa dengan SWOT (Strength,
Weakness, Oppurtunities, Threats). Kekuatan (strength) yakni kekuatan apa saja yang dipunyai koperasi. Dengan
memahami kekuatan, koperasi bisa
dikembangkan menjadi lebih tangguh sampai mampu bertahan dalam perekonomian di Indonesia dan mampu berlomba untuk pengembangan
selanjutnya.
Kelemahan (Weakness) yakni segala hal yang tidak menguntungkan atau merugikan untuk koperasi. Menurutnya, di antara yang mesti dilaksanakan koperasi untuk dapat memang dalam persaingan ialah menciptakan efisiensi biaya.
Kesempatan
(Opportunities) yakni semua peluang yang terdapat sebagai kepandaian
pemerintah, ketentuan yang
berlaku atau situasi perekonomian
nasional atau global yang dirasakan memberi
peluang untuk koperasi guna tumbuh dan berkembang di masa
yang bakal datang.
Ancaman
(Threats) yakni hal-hal yang
dapat menyebabkan kerugian untuk kopersi laksana Peraturan Pemerintah yang tidak memberikan fasilitas berusaha, rusaknya
lingkungan, dan lain-lain.
Semakin berkembangnya zaman mesti
menciptakan koperasi lebih tertantang guna membenahi kemudahan dan sumber daya
insan serta manajemen lebih baik. Karena bila tidak koperasi bakal terus
meredup lagipula di jaman era milenium sekarang ini. Dibutuhkan pun sosialisasi
dan edukasi koperasi untuk masyarakat supaya dapat mencetuskan kader-kader
koperasi yang bisa diandalkan. Diharapkan pun kerja sama dari pemerintah dan
gerakan koperasi tersebut sendiri guna dapat menciptakan koperasi menjadi lebih
baik sampai-sampai koperasi bisa memenuhi keperluan masayarakat dan bisa mewujudkan
kesejahtraan semua anggotanya dan pun masyarakat.
DAFTAR PUSTAK
Kusnadi, Herman. 2005. Ekonomi Koperasi untuk Perguruan Tinggi.
Edisi Kedua. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Partomo, Tiktik Sartika. 2009. Ekonomi
Koperasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Subandi. 2013. Ekonomi Koperasi : Teori dan Praktik. Edisi
Kedua. Bandung: Alfabeta.
Sitio, Arifin dan Halomoan Samba. 2001.
Koperasi : Teori dan Praktik. Jakarta: Erlangga.
Fathorrazi. 2013. Ekonomi Koperasi.
Jember : Jember Unuiversity Press.
www.depkop.go.id
https://www.koperasi.net/2018/05/koperasi-milenial.html








+Perangkat+Organisasi+Koperasi.jpg)
