NAMA :
RAHMAT JATNIKA
NPM :
24217894
KELAS :
2EB04
MATA KULIAH :
EKONOMI KOPERASI (SOFTSKILL)
MAKALAH
EKONOMI KOPERASI
SIAPKAH KOPERASI
MENGHADAPI ERA GLOBALISASI?
Makalah ini Disusun dalam Rangka
Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Ekonomi Koperasi (Softskill)
Dosen
Pengampu : Sulastri
KELAS 2EB04
Disusun
Oleh:
RAHMAT JATNIKA (24217894)
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS GUNADARMA
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke
hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan
makalah saya dengan baik. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu
Sulastri, selaku dosen mata kuliah Ekonomi Koperasi, yang telah memberikan
kesempatan kepada saya untuk dapat menulis serta menyelesaikan makalah ini. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata
kuliah Softskill “Ekonomi Koperasi”. Tak ada gading yang tak retak, demikian
juga saya dalam menulis makalah ini memiliki beberapa kelemahan dan melakukan
kesalahan, sehingga makalah yang saya tulis ini masih jauh dari sempurna dan
tak luput dari kecacatan. Oleh karena itu, saya meminta maaf atas kesalahan
yang ada dan mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi para
pembaca dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Depok, 9 November 2018
Rahmat Jatnika
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Manfaat Penulisan
BAB
II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Globalisasi
2.2 Dampak Positif Globalisasi
Ekonomi
2.3 Dampak Negatif Globalisasi
2.4
Peluang
Dan Tantangan Koperasi Di Era Globalisasi
2.5
Langkah-langkah
Antisipatif Koperasi Dalam Globalisasi
2.6
Koperasi
Indonesia dalam Menghadapi Pasar Global
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
Diperkembangan
jaman yang sudah paling luas
ini, membawa kita berada didalam
dunia yang paling dekat dengan
yang lainnya. Memberikan sekian banyak macam fasilitas didalam menjalani segala kegiatan manusianya, dengan kemerdekaan yang paling kompleks
dan menjadikan insan harus dapat berlomba antara pribadi satu dengan induvidu lainnya
atau kumpulan satu dengan kumpulan lainnya, urusan tersebut merupakan era globalisasi yang dominan baik maupun buruk terhadap kehidupan manusia. Globalisasi
membuat insan harus mampu berlomba dari dalam lingkungan ke
lingkungan yang baru atau dengan manusia-manusia baru. Globalisasi ialah kebersangkutan dan ketergantungan antar bangsa dan antar insan di semua dunia melewati perdagangan,
investasi, perjalanan, kebiasaan populer,
dan bentuk-bentuk interaksi yang lain
sampai-sampai batas-batas sebuah
negara menjadi semakin sempit.
Di
dalam globalisasi lahir suatu globalisasi
perkonomian. yakni adalah suatu
proses pekerjaan ekonomi dan perdagangan,
dimana negara-negara di semua dunia
menjadi satu kekuatan pasar yang semakinterintegrasi dengan tanpa rintangan
batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian mewajibkan penghapusan
semua batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa. Ketika
globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas
sebuah negara bakal menjadi
kabur dan kebersangkutan antara
ekonomi nasional dengan perekonomian internasional bakal semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak bakal membuka kesempatan pasar produk dari domestik ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya pun membuka kesempatan masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik.
Jadi
relevansi globalisasi terhadap perekonomian sebuah bangsa menjadi
paling kompleks dan signifikan terhadap suasana masyarakat sebuah
bangsa tersebut. Hal ini menandakan bahwa di era ini kompetisi antara pribadi dengan pribadi atau antara
kumpulan dengan kelompok. Dan koperasi disini diinginkan mempunyai peran untuk menciptakan suatu suasana
masyarakat stabil dalam perekonomiaannya. Dan koperasi dapat menghadapi sebuah era globalisasi yang secara
tidak langsung ataupun langsung masuk di lingkungan selama kita, dan bagaimana kita dapat menghadapi urusan
tersebut dengan arif dan
baik.
1.2
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penyusunan
makalah ini :
1. Untuk mengetahui dan memahami
mengenai kesiapan koperasi menghadapi era globalisasi.
2. Untuk mengetahui dan
menjabarkan tentang apa saja yang harus dilakukan oleh koperasi dalam menghadapi era globalisasi ini.
1.3
Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan ini, yaitu
:
1. Sebagai masukan saya sendiri untuk
menambah wawasan mengenai kesiapan koperasi menghadapi era globalisasi ini.
2. Menambah informasi dan
pengetahuan bagi para mahasiswa dan para pembaca pada umumnya.
BAB
II
PEMBAHASAN
Globalisasi
ialah kebersangkutan dan
ketergantungan antar bangsa dan antar
insan di semua dunia melewati perdagangan, investasi,
perjalanan, kebiasaan populer,
dan bentuk-bentuk interaksi yang lain
sampai-sampai batas-batas sebuah
negara menjadi semakin sempit.
Globalisasi ialah suatu proses di mana antar
individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, bersangkutan, dan memengaruhi satu
sama beda yang mengarungi batas negara.
Globalisasi perekonomian adalah suatu proses
pekerjaan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di semua dunia menjadi satu kekuatan
pasar yang semakinterintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara.
Globalisasi perekonomian mewajibkan penghapusan semua batasan dan hambatan terhadap
arus modal, barang dan jasa.
Ketika
globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas
sebuah negara bakal menjadi
kabur dan kebersangkutan antara
ekonomi nasional dengan perekonomian internasional bakal semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak bakal membuka kesempatan pasar produk dari domestik ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya pun membuka kesempatan masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik.
Berdasarkan keterangan dari Tanri Abeng, perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi
antara beda terjadi dalam bentuk-bentuk
berikut:
§ Globalisasi produksi,
di mana perusahaan berproduksi di sekian banyak negara, dengan sasaran supaya biaya buatan menajdi lebih rendah. Hal ini dilaksanakan baik sebab upah buruh yang rendah, tarif bea masuk yang murah, infrastruktur yang mencukupi ataupun sebab iklim usaha dan politik yang kondusif. Dunia dalam urusan ini menjadi tempat manufaktur global.
§ Globalisasi pembiayaan.
Perusahaan global memiliki akses untuk mendapat pinjaman atau mengerjakan investasi (baik dalam format portofolio ataupun langsung) di seluruh negara di dunia. Sebagai contoh, PT Telkom dalam menggandakan satuan sambungan telepon, atau PT Jasa Marga dalam memperluas jaringan jalan tol sudah memanfaatkan sistem pembiayaan dengan pola BOT (build-operate-transfer) bareng mitrausaha dari manca negara.
Perusahaan global memiliki akses untuk mendapat pinjaman atau mengerjakan investasi (baik dalam format portofolio ataupun langsung) di seluruh negara di dunia. Sebagai contoh, PT Telkom dalam menggandakan satuan sambungan telepon, atau PT Jasa Marga dalam memperluas jaringan jalan tol sudah memanfaatkan sistem pembiayaan dengan pola BOT (build-operate-transfer) bareng mitrausaha dari manca negara.
§ Globalisasi tenaga kerja.
Perusahaan global akan dapat memanfaatkan tenaga kerja dari semua dunia cocok kelasnya, seperti pemakaian staf profesional dipungut dari tenaga kerja yang sudah mempunyai pengalaman internasional atau buruh kasar yang biasa didapatkan dari negara berkembang. Dengan globalisasi makahuman movement bakal semakin gampang dan bebas.
Perusahaan global akan dapat memanfaatkan tenaga kerja dari semua dunia cocok kelasnya, seperti pemakaian staf profesional dipungut dari tenaga kerja yang sudah mempunyai pengalaman internasional atau buruh kasar yang biasa didapatkan dari negara berkembang. Dengan globalisasi makahuman movement bakal semakin gampang dan bebas.
Masyarakat
sebuah negara dengan gampang dan
cepat menemukan informasi dari
negara-negara di dunia sebab kemajuan
teknologi, antara beda melalui:
TV,radio,media cetak dll. Dengan jaringan komunikasi yang semakin maju telah menolong meluasnya pasar ke sekian banyak belahan dunia guna barang yang sama. Sebagai misal : KFC, celana jeans levi’s,
atau hamburger melanda pasar dimana-mana. Akibatnya selera masyarakat dunia
-baik yang berdomisili di kota ataupun di desa- mengarah ke pada selera global.
§ Globalisasi Perdagangan.
Hal ini terwujud dalam format penurunan dan penyeragaman tarif serta penghapusan sekian banyak hambatan nontarif. Dengan demikian pekerjaan perdagangan dan kompetisi menjadi semakin cepat, ketat, dan adil.
Hal ini terwujud dalam format penurunan dan penyeragaman tarif serta penghapusan sekian banyak hambatan nontarif. Dengan demikian pekerjaan perdagangan dan kompetisi menjadi semakin cepat, ketat, dan adil.
Thompson
menulis bahwa kaum globalis mengklaim ketika ini sudah terjadi suatu intensifikasi secara cepat
dalam investasi dan perniagaan internasional.
Misalnya, secara nyata perekonomian nasional sudah menjadi unsur dari
perekonomian global yang ditengarai dengan adanya kekuatan pasar dunia.
2.2 Dampak Positif Globalisasi Ekonomi
Pandangan
ini cocok dengan teori
‘Keuntungan Komparatif’ dari David Ricardo. Melalui spesialisasi dan perniagaan faktor-faktor buatan dunia dapat dipakai dengan lebih efesien, output
dunia meningkat dan masyarakat
akan mendapat keuntungan dari spesialisasi dan perniagaan dalam format pendapatan yang meningkat,
yang selanjutnya dapat menambah pembelanjaan
dan tabungan.
Perdagangan
yang lebih bebas memungkinkan masyarakat dari sekian banyak negara
mengimpor lebih tidak sedikit barang
dari luar negeri. Hal ini mengakibatkan
konsumen memiliki pilihan
barang yang lebih banyak. Di samping itu,
konsumen pun dapat merasakan barang yang lebih baik
dengan harga yang lebih rendah.
§ Meluaskan pasar guna produk dalam negeri
Perdagangan
luar negeri yang lebih bebas memungkinkan masing-masing negara memperolehpasar yang jauh lebih luas dari
pasar dalam negeri.
Modal
dapat didapatkan dari investasi
asing dan khususnya dinikmati
oleh negara-negara berkembang sebab masalah kelemahan modal dan tenaga berpengalaman serta tenaga terdidik
yang kawakan kebanyakan dihadapi
oleh negara-negara berkembang.
Pembangunan
sektor industri dan sekian banyak sektor
lainnya tidak hanya dikembangkan
oleh perusahaan asing, namun terutamanya melewati investasi yang dilaksanakan oleh perusahaan swasta
domestik. Perusahaan dalam negeri ini
seringkali membutuhkan modal
dari bank atau pasar saham. dana dari luar negeri khususnya dari negara-negara maju yang menginjak pasar duit dan
pasar modal di domestik dapat menolong menyediakan modal yang diperlukan tersebut
2.3
Dampak Negatif Globalisasi Ekonomi
§ Menghambat perkembangan sektor industri
Salah
satu efek dari globalisasi ialah perkembangan
sistem perniagaan luar negeri
yang lebih bebas. Perkembangan ini
mengakibatkan* negara-negara berkembang tidak bisa lagi memakai tarif
yang tingi untuk menyerahkan proteksi untuk industri yang baru berkembang
(infant industry). Dengan demikian,
perniagaan luar negeri yang lebih bebas memunculkan hambatan
untuk negara berkembang guna memajukan
sektor industri dalam negeri yang
lebih cepat. Di samping itu,
ketergantungan untuk industri-industri
yang dipunyai perusahaan
multinasional semakin meningkat.
§ Memperburuk neraca pembayaran
Globalisasi ingin menaikkan dagangan impor. Sebaliknya, bilamana suatu negara tidak dapat bersaing, maka ekspor tidak
berkembang. Keadaan ini bisa memperburuk situasi neraca pembayaran. Efek buruk beda dari globaliassi terhadap neraca
pembayaran ialah pembayaran neto
pendapatan hal produksi dari
luar negeri ingin mengalami
defisit. Investasi asing yang bertambah
tidak sedikit menyebabkan aliran pembayaran deviden (pendapatan) investasi ke luar negeri semakin meningkat.
Tidak berkembangnya ekspor dapat
berdampak buruk terhadap neraca pembayaran.
Salah
satu efek urgen dari globalisasi ialah pengaliran investasi (modal)
portofolio yang semakin besar. Investasi ini terutama mencakup partisipasi dana luar negeri ke pasarsaham. Ketika pasar
saham sedang meningkat, dana ini bakal mengalir
masuk, neraca pembayaran meningkat bak
dan nilai duit akan meningkat baik. Sebaliknya, saat harga-harga saham di pasar saham
menurun, dana domestik akan
mengalir ke luar negeri, neraca pembayaran ingin menjadi meningkat buruk
dan nilai mata uang dalam negeri merosot.
Ketidakstabilan di sektor finansial ini
dapat memunculkan efek buruk untuk kestabilan pekerjaan ekonomi secara keseluruhan.
Apabila
hal-hal yang ditetapkan di atas
berlaku dalam sebuah negara,
maka dlam jangka pendek perkembangan ekonominya
menjadi tidak stabil. Dalam jangka panjang perkembangan yang laksana
ini akan meminimalisir lajunya perkembangan ekonomi.Pendapatan
nasional dan peluang kerja bakal semakin lambat pertumbuhannya
dan masalah pengangguran tidak dapat
ditanggulangi atau justeru semakin
memburuk. Pada akhirnya, bilamana globalisasi memunculkan efek buruk untuk prospek perkembangan ekonomi jangka panjang sebuah negara, penyaluran
pendapatan menjadi semakin tidak adil dan masalah sosial-ekonomi
masyarakat semakin meningkat buruk.
Agar
koperasi bisa eksis dalam era
globalisasi butuh menempuh empat
langkah.Pertama, mesti bisa merestrukturasi
hambatan internal dengan mengikis segala konflik yang ada. Kedua, pembenahan
manajerial, ketiga, startegi integrasi ke luar dan ke dalam.Keempat, penambahan efisiensi dalam proses buatan dan distribusi.
Peluang
koperasi guna tetap berperan
dalam perekonomian nasional dan internasional tersingkap lebar asal koperasi dapat membenahi diri menjadi di
antara pelaku ekonomi (badan usaha) yang kompetitif dikomparasikan pelaku ekonomi
lainnya.
Tantangan guna pengembangan masa mendatang memang relative berat,
karena bila tidak dilaksanakan pemberdayaan dalam
koperasi bisa tergusur dalam kompetisi yang kian menggelobal. Kalau
anda lihat ciri-ciri globalisasi dimana pergerakan barang, modal dan duit demikian bebas dan perlakuan
terhadap pelaku ekonomi sendiri dan asing (luar negeri) sama, maka tidak ada dalil bagi sebuah negara guna memanjakan semua pelaku ekonoi (termasuk
koperasi) yang tidak tepat guna dan
kompetitif.
Masa
depan perekonomian global berada ditangan unit usaha yang kecil, otono, tetapi padat teknologi. Sektor-sektor
usaha kecil di Indonesia butuh diberi peluang untuk berperan labih banyak.
Keistimewaan koperasi tidak
dikenal adanya majikan dan buruh, serta tiadak terdapat istilah pemegang saham mayoritas. Semua anggota
berposisi sama, dengan hak suara sama. Oleh sebab itu, apabila
kegiatan produksi yang
dilaksanakan koperasi ternyata
bisa memberi laba financial,
seluruh pihak bakal turut merasakan laba tersebut.
Untuk
mengembangkan koperasi tidak sedikit hal
yang perlu dirapikan baik
internal maupun eksternal. Langkah pembenahan koperasi, Pertama-tama mesti bisa merestrukturisasi hambatan
internal, dengan mengurangi segala
konflik yang ada. Menumbuhkan mentalitas kewirausahaan semua pengurus dan anggota koperasi.
Kedua, membetulkan manajerial. Manajemen
koperasi dimasa yang bakal datang
menghendaki pengarahan focus terhadap pasar, sistem pencatatan finansial yang baik, serta
perencanaan arus kas dan keperluan modal
mendatang.
Ketiga,
kerjasama antar koperasi maupun kerjasama dengan pelaku lainnya dengan prinsip
saling menguntungkan. Koperasi dituntut untuk menanam anggotanya sebagai pelaku aktif dalam proses buatan dan penyaluran dapat mengisi syarat-syarat
penghemat biaya, pemanfaatan modal, keorganisasian, fleksibilitas dan pemekaran peluang kerja. Berdasarkan keterangan dari Indra
Ismawan (2001), pada gilirannya koperasi
bakal memadukan istilah the bigger is better dengan small is beautiful.
Setelah
67 tahun Indonesia merdeka, bagaimana
pertumbuhan dan peran koperasi Indonesia ? Ada dua pendapat. Pertama, situasi dan pertumbuhan serta peran koperasi Indonesia masih memprihatinkan.
Kedua, eksistensi koperasi
sungguh menolong perekonomian
Indonesia dan perkembangannya pun selalu
naik.
Pakar Koperasi dan Ekonomi, Bernhard Limbong,
menyatakan, situasi koperasi di
Indonesia hingga tahun 2011 lumayan memperihatinkan. Sebanyak 27
persen dari 177.000 koperasi yang
terdapat di Indonesia atau
selama 48.000 koperasi tidak aktif.
Berdasarkan keterangan dari Limbong, secara de facto, sosok peran koperasi masih
jauh panggang dari api. Kedudukan koperasi terstruktur dalam posisi yang
marginal dan terkungkung dalam masalah internal yang melemahkan. Komitmen
amanat Pasal 33 UUD 1945, belum sukses menciptakan
fondasi dan bangunan keekonomian koperasi yang kokoh dan berketahanan.
Sebagai
badan usaha, koperasi dicitrakan gagal
mengisi harapan masyarakat luas,
yakni entitas bisnis yang menguntungkan. Sebagai gerakkan ekonomi
rakyat, koperasi dirasakan gagal
menjadi actor sentral demokrasi ekonomi.
Berdasarkan keterangan dari Limbong, secara eksternal, pesatnya pengaruh
globalisasi pasar bebas ekonomi dunia
sudah menggiring perekonomian Indonesia ke arus kapitalisme yang
menggurita, dan pada gilirannya makin menyulitkan
posisi dan peran koperasi di zona ekonomi negeri ini.
Sementara
peran strategis negara guna mewujudkan
ideologi ekonomi berbasis koperasi tidak secara nyata dan signifikan menyerahkan hak sosial ekonomi rakyat
berupa kemakmuran.
“Hal tersebut terutama dampak koordinasi dan komitmen yang
lemah pada tataran implementasi
ketentuan perundang-undangan,
ketentuan pemerintah dan keputusan menteri, dan kebijakan-kebijakan
teknis operasional,” kata Limbong.
Sementara
secara internal, lambannya pertumbuhan serta
pergerakan koperasi di Indonesia
diakibatkan sejumlah hal internal
koperasi tersebut sendiri, laksana modal usaha dan lapangan
usaha terbatas. Dampkanya, beberapa koperasi melulu mengelola satu jenis usaha,
dan sifatnya temporer, serta monoton.
Di samping itu,
kurangnya tenaga professional, bahkan
beberapa masyarakat tak mau* masuk
sebagai pengelola koperasi sebab dinilai
tidak menjanjikan masa depan.
Permasalahan lainnya ialah kepastian usaha, segmentasi pasar, dan daya dukung
organisasi yang paling lemah.
Percepatan usaha yang dipunyai berjalan
lamban, dan tidak cukup mampu berlomba di pasar, baik pasar lokal,
regional, dan nasional lagipula pasar
internasional.
Sebaliknya
pendapat kedua laksana Menteri
Koperasi dan UKM, Syarief Hasan, menegaskan, 67 tahun sesudah koperasi
diputuskan sebagai soko guru perekonomian nasional, koperasi terus
berkembang dan menyerahkan kontribusi
nyata untuk perekonomian
nasional kita.
Data
dari Kementerian Koperasi dan UKM pada 2013 memperlihatkan ada 194.925 unit koperasi di Indonesia, tergolong di dalamnya 1.472 unit
koperasi nelayan yang tersebar di 23 provinsi. Dengan jumlah anggota menjangkau 33,6 juta orang. Setiap
tahunnya, perkembangan koperasi
ini menjangkau tujuh hingga delapan persen. Mayoritas
koperasi yang beroperasi ialah simpan
pinjam.
Dari
data tersebut, Syarief berkeyakinan
powerful bahwa koperasi akan
kian tumbuh dan berkembang pada tahun-tahun mendatang dan pada
gilirannya bakal ikut berperan urgen dalam menjangkau pertumbuhan dan pemeratan ekonomi 7,7 persen,
pengurangan angka kemiskinan menjadi 8-10 persen, dan pengurangan angka
pengangguran menjangkau 5 – 6
persen pada tahun 2014.
Syarief
tidak berlebihan, empiris sejak
krisis ekonomi semenjak tahun
1998 menunjukan koperasi bareng UMKM
memiliki keterampilan berakselarasi
dan berdaya tahan tinggi. Sebanyak 58 persen Produk Domestik Bruto (PDB)
disumbangkan dari sektor koperasi dan UMKM. Dari sektor koperasi pula Indonesia dapat* menjaring pengusaha. Ini
penting sebab rasio pengusaha di
negara ini masih minim.
Di samping itu,
koperasi dan UMKM menjadi penyerap tenaga kerja yang paling potensial larena proses buatan yang dilaksanakan Kementerian
biasanya mempunyai sifat padat
karya dan paling adaptif
terhadap lingkungan yang berubah.
Sementara
pakar manajemen dan koperasi,Thoby Mutis, sebagaimana dilansir Limbong dalam bukunya, Pengusaha Koperasi: Memperkokoh
Fondasi Ekonomi Rakyat, 2010, mengatakan, dua urusan yang butuh mendapat
perhatian semua pelaku usaha koperasi ialah terus menelorkan
terobosan-terobosa kreatif dan inovatif dalam mengembangkan bisnis. Ini penting supaya koperasi dapat berdiri sejajar dengan badan
usaha swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Thoby
Mutis menghimbau semua profesional
koperasi untuk menggali relevansi
manajemen koperasi dengan pertumbuhan manajemen canggih kontemporer yang diterapkan
di lembaga ekonomi beda (swasta
dan lembaga ekonomi kepunyaan negara) supaya bisnis koperasi dapat memicu efisiensi teknis hemat dan sekaligus sosial.
Kedua,
bertekat kuat merealisasikan manajemen
profesional dalam menjalankan bisnis koperasi yang ditandai dengan sejumlah strategi, yaitu berani merekrut tenaga-tenaga
profesional hebat dengan gaji besar, mengembangkan kemahiran para pengurus dan manajemen pengelola koperasi,
menyiapkan dana eksklusif untuk mengerjakan riset, pekerjaan public relation, dan
memperluas kemitraan dan seterusnya.
Sampai ketika ini dan kedepan pemerintah,
dalam urusan ini Kementerian
Koperasi dan UKM, terus melakukan
pekerjaan untuk menumbuhkembangkan koperasi. Salah satunya melewati Lembaga Pengelola Dana
Bergulir (LPDB).
Lembaga ini
paling siap menolong dunia
perkoperasian dan semua pelaku
UKM. Sejak berdiri tahun 2006, LPDB sudah menyerahkan modal untuk 1.600
koperasi. Sebanyak 1.600 koperasi ini
bila hitung-hitung matematis,
bila satu koperasi memiliki 1.000
UKM, bila 1 UKM memiliki tenaga kerja tiga orang, telah 15.000 tenaga kerja. Jadi LPDB tersebut menciptakan lapangan kerja.
Berdasarkan keterangan dari Agus Muharam,
semenjak tahun 2010, Kementerian Koperasi dan UKM mengusulkan program Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi (Gemaskop).
Ada tiga destinasi yang ingin dijangkau dalam gerakan ini, yakni menyuruh sebanyak-banyak masyarakat
Indonesia guna berkoperasi, berbenah koperasi-koperasi yang ada guna berkoperasi cocok dengan nilai dan prinsip
koperasi, lalu membina koperasi
berskala besar yang mempunyai daya
saing di tingkat nasional dan internasional.
Sesuai
data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga
Februari 2012, pengangguran
tersingkap di Indonesia
menjangkau 6,32 persen atau 7,61 juta orang. Sementara menurut data teranyar dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
(TNP2K) yang sedang di bawah
koordinasi Wakil Presiden di Indonesia pada tahun 2012 sampai 2013 yang
menjangkau angka 96 juta jiwa.
Semoga
dengan gencarnya pemerintah mengerjakan
Gemaskop, maka semakin tidak
sedikit orang bergabung atau
menyusun koperasi terutama semua
penganggur dan orang-orang
kurang mampu ini. Kalau demikian, maka koperasi benar-benar menciptakan Indonesia Jaya.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Koperasi sebetulnya dapat menjadi motor
penggerak roda perekonomian nasional untuk terbit dari krisis ekonomi. Dan pun koperasi dapat mengembangkan
produk lokal yang berkualitas supaya bisa
mengeksport sampai-sampai produk domestik dapat berlomba di negeri sendiri dan minimal meminimalkan masyarakat memakai produk eksport.
Peluang
koperasi guna tetap berperan
dalam percaturan perekonomian nasional dan internasional tersingkap lebar asal koperasi dapat membenahi* diri menjadi
di antara pelaku ekonomi (badan usaha) yang kompetitif dikomparasikan pelaku ekonomi
lainnya. Tantangan guna menghadapi
globalisasi memang berat karena andai koperasi
tidak membenahi dalam segala
aspek maka bukan tidak barangkali koperasi bakal tergerus serta bakal mematikan perekonomian
masyarakat. Selain tersebut membuat
koperasi menjadi usaha yang nyaman guna
bertransaksi dengan masyarakat
pun anggotanya bakal lebih menciptakan koperasi menjadi
kompetitif dan tepat guna dalam
pelayanannya.
3.2.
Saran
Koperasi
seharusnya mesti di jaga supaya tetap berlangsung dengan lancar
sebab koperasi disamping
tersebut juga merupakan format dari kepandaian ekonomi di indonesia supaya suatu perekonomian di negara
ini baik dan sejahtera, yang mana
kopersai tersebut berasaskan
kekeluargaan dan gotong royong yangmana
cocok dengan pancasila yang yang
anda anutnya. Oleh karena itu,
koperasi pun sangatlah berperan urgen dalam sebuah perekonomian indonesia ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Kusnadi, Herman. 2005. Ekonomi
Koperasi untuk Perguruan Tinggi. Edisi Kedua. Jakarta: Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Partomo, Tiktik Sartika. 2009. Ekonomi
Koperasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Subandi. 2013. Ekonomi
Koperasi : Teori dan Praktik. Edisi Kedua. Bandung: Alfabeta.
Sitio, Arifin dan Halomoan Samba. 2001. Koperasi : Teori dan Praktik. Jakarta:
Erlangga.
Fathorrazi. 2013. Ekonomi Koperasi. Jember : Jember Unuiversity Press.
www.depkop.go.id














